Thursday, July 2, 2015

Kehidupan selama di Korea Part 1


Introduction

Halo saudara terkasih dalam Kristus. Pada kesempatan ini saya ingin sekali membagikan pengalaman-pengalaman saya selama saya studi di Korea. Ada banyak hal yang terjadi selama studi ini, ada suka dan ada duka. Hidup di negara orang memang penuh dengan cerita. Mudah-mudahan teman-teman yang membaca pengalamanku ini boleh semakin diberkati. Di kisah ini yang paling utama saya ingin menekankan pekerjaan tangan Tuhan kita, Yesus Kristus, di hidup saya selama di Korea.            
                Perjuangan itu dimulai saat salah satu senior saya, yang bernama Noka Prihasto, di Teknik Lingkungan ITB membuka lowongan beasiswa melanjutkan studi S2 di Kyungnam University dengan beasiswa Professor based Scholarship (Beasiswa dari proyek penelitian di laboratorium), Korea Selatan. Jujur saya cukup tertarik apply program ini karena keinginan yang sangat tinggi untuk lanjut studi di luar negeri. Di saat bersamaan kebenaran Korea selatan sedang populernya dengan Korean Drama Series-nya dan K-Popnya, namun, bukan hal itu yang membuat saya tertarik untuk studi di Korea Selatan.
Mungkin banyak yang tak tahu bahwa Korea selatan adalah negara urutan kelima di dunia untuk biaya hidup termahal. Bisa dikatakan Korea Selatan memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Di empat tahun terakhir, Korea juga membuka besar-besaran penerimaan mahasiswa asing untuk melanjutkan studi S2 maupun S3 melalui berbagai macam program beasiswanya.
                Setelah melalui proses yang lumayan ribet, tanggal 1 september 2012, saya berangkat ke Korea menggunakan pesawat udara plat Malaysia dari Medan. Butuh waktu sekitaran 6 jam sampai ke Seoul. Satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah  kami gagal mendarat sebanyak 2 kali karena buruknya cuaca pada saat itu akibat pergerakan angin taipoon dan kami pun harus menunggu di angkasa selama 15 menit untuk mendapatkan ijin dari pihak bandara terkait untuk mendarat. Puji Tuhan, kami pun berhasil mendarat dengan aman dan selamat. Suara tepukan meriah dari penumpang kepada seluruh awak pesawat menutup perjalanan kami.
                Perjalanan kali ini adalah perjalanan luar negeri saya pertama, perasaan gugup dan sedikit khawatir kerap saya rasakan. Dengan tetap fokus, saya mengikuti penumpang lainnya dan memperhatikan gerak-gerik mereka, maklum saya takut ketingalan. Kata orang-orang, Bandara Incheon adalah salah satu bandara terbesar dan terbaik di dunia, dan ternyata itu terbukti dengan mata saya sendiri, bandara ini sungguh keren tampilan maupun fasilitas-fasilitas di dalamnya, dengan fasilitas railwaynya seakan-akan bandara ini sangat mudah untuk ditelusuri. Kenyataannya, bandara ini sangat luas.
                Setelah mendapatkan semua bagasi, saya mulai mencari petunjuk arah untuk keluar. Saya bersyukur ternyata salah seorang senior saya, Bang Indra, sudah menunggu di luar. Akhirnya dengan bantuannya, saya berhasil mencapai bus terminal dan berangkat ke Masan, kota tempat saya akan studi. Kurang lebih butuh waktu 5 jam untuk sampai di Masan. Walaupun fasilitas bus sangat nyaman, perjalanan ini tetap terasa melelahkan. Sesampainya di Masan, saya segera mencari pusat informasi untuk meminta bantuan menghubungi senior saya. Dengan bahasa inggris bercampur gerakan tangan, saya akhirnya dapat menggunakan telepon mereka dan terhubung dengan senior saya. Kurang dari 25 menit, seorang pria korea, Tae Min Lee, dengan gelagat sedang mencari-cari seorang mendekat ke arah saya. Dengan keberanian saya berbicara dengannya dan benar dia adalah salah satu anggota laboratorium tempat saya bekerja nanti, namanya Tae-Min Lee. Pengalaman yang sangat unik, dia sangat kaku berbahasa inggris, dan selama perjalanan ke laboratorium, saya hampir mengulangi 3 kali perkataan saya untuk dapat dimengerti beliau. Maklum, katanya dia sangat jarang berbahasa inggris.
                Sesampainya di kampus, Kyungnam University, saya langsung diantar menemui Professor, Kim Seung Hyun, beliau adalah sponsor saya selama studi di Korea. Kesan pertama Professor bertemu dengan saya adalah dia bertanya apakah saya yang namanya Merry Sianipar. Dia tidak cukup yakin mungkin yang dia temui sosoknya seperti tidak anak kuliahan. Hehehe. Akhirnya Professor mengajak saya berbincang-bincang diruangannya, dan hadiah pertama yang diberikan adalah handuk. Terharu sekaligus kaget, saya belum pernah dihadiahi sebuah handuk. Hadiah yang sangat bermanfaat. Sorenya saya diperkenalkan dengan anggota Laboratorium lainnya yang sudah senior. Mereka adalah Yoon Dong-Su, Lee Ho-Yer, dan paling tertua, Min Choongsik. Kami pun berangkat makan malam bersama. Selama makan malam, saya merasakan kehangatan kekeluargaan. Professor sendiri lebih banyak bertanya tentang latar belakang dan kondisi keluarga saya. Saya merasa Professor saya orang yang baik dan perhatian. Setelah makan malam, akhirnya saya bertemu senior saya, Noka Prihasto. Beliaulah yang menjadi pembuka jalan bagi saya studi di Korea sekaligus perantara saya dengan Professor dan manajer laboratorium selama proses penerimaan mahasiswa. Kami pun berbelanja peralatan kos di Lotte Mart bersama seluruh anggota Laboratorium lainnya. Saya bersyukur kak Noka yang mentraktir saya belanja peralatan kos. :). Selanjutnya, Life in Korea was begun.

Life in Korea was begun

                Kehidupan saya di Korea tepatnya dimulai pada tanggal 01 September 2012. Kekhawatiran dan ketakutan kerap kali melanda hati dan pikiran saya. Bagaimana saya akan menjalani 2 tahun ke depan hidup di Korea.
                Saya bersyukur saya ditempatkan di tengah-tengah orang-orang Korea yang cukup baik hati. Di bulan pertama di Korea, saya sibuk melakukan administrasi Kuliah dan asrama. Dibantu manajer Lab, saya akhirnya resmi menjadi mahasiswa program magister di Departemen Teknik Sipil. Adapun jurusan program magister saya adalah Science and Infrastructure System.

Culture Shock: Think and Move Fast & Independent Student
                Menjalani studi S2 di Korea adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada saya. Saya bersyukur bisa mendapat kesempatan ini. Bukan semata kebanggaan studi di luar negerinya, namun selama studi S2 ini saya benar-benar belajar mengandalkan Tuhan. Disinilah saya pikir salah satu puncak kebahagian yang tertinggi itu.
                Masa sulit pertama yang saya hadapi adalah berelasi dengan orang Korea. Bahasa menjadi salah satu kendala kurang bisanya saya bergaul dengan orang korea. Tak mudah menemukan seorang Korea yang bisa berbahasa Inggris. Bahkan di lingkungan kampus, jangan harap bisa dengan mudah menemukan seorang yang lancar berbahasa Inggris. Tidak jauh-jauh, anggota laboratorium saya yang familiar dengan konferensi internasional dan paper berskala international mengalami kesulitan dalam berbahasa inggris yang baik. Hal ini mungkin dikarenakan sistematika bahasa mereka yang sangat berbeda dengan bahasa Inggris. Ditambah lagi jenis huruf mereka yang mereka sering gunakan mejadikan mereka sulit untuk mengingat vocabulary. Bisa dibayangkan sulitnya membangun relasi dengan orang-orang sini. Saya sendiri satu-satunya mahasiswa Indonesia di kampus ini dan bahkan di kota ini sehingga mau tak mau saya harus berinteraksi dengan orang-orang Korea saja. Makan, kerja dan jalan-jalan dengan mereka. Kondisi ini sangat tidak nyaman bagi saya di awal. Bayangkan saja, mereka berkomunikasi hanya dengan bahasa Korea dan tak begitu peduli apakah saya mengerti atau tidak. Akhirnya di bulan-bulan pertama yang saya rasakan adalah kepahitan. Akhirnya saya belajar untuk cuek di saat berkumpul bersama. Di sisi lain kendala bahasa ini kerap kali menimbulkan miskomunikasi diantara kami. Miskomunikasi yang berujung pada perkelahian. Tak jarang saya menangis di awal-awal kehidupan saya di Korea.
                Kesulitan lainnya yang saya hadapi adalah beradaptasi dengan kultur kerja mereka. Kultur pali atau think and move fast sungguh-sungguh membuat saya sering linglung dan berespon lambat. Apalagi sifat senioritas yang sangat kental membuat saya agak gugup dalam membangun relasi ke anggota tim yang lebih tua. Seorang senior Korea kerap kali ingin juniornya mengerjakan maksud pikirannya dengan cepat dan tepat.Tekanan itu bukan membuatku cepat tepat tapi jadi lambat dan tidak tepat. Sebagai konsekuensinya, tak jarang saya mendapat teriakan dengan nada meninggi atau paling tragisnya makian "Pabo (Bodoh)" dari senior. Sangat disadar, mereka (senior) tidak pandang bulu dengan juniornya baik laki-laki maupun perempuan. Begitulah tekanan yang saya hadapi di bulan-bulan bahkan tahun pertama, dan hal itu membuat saya stress. Tak hanya merasa mental saya tertekan, tekanan berujung kurang fokusnya saya sehingga tak jarang menimbulkan kerusakan alat. Hingga pada suatu hari, senior sangat marah dengan saya karena rusaknya alat yang cukup mahal, tak dapat dibendung lagi jitakannya pun mendarat di jidat saya. Seumur-umur, belum pernah saya dijitak senior saya selama kuliah.
                Adaptasi jam kerja di Korea juga cukup merepotkanku. Masuk jam 9 pagi, pulang jam 9 malam adalah standar biasa di laboratoriumku, dan hampir di seluruh laboratorium di kampus-kampus Korea. Bisa bayangkan bagaimana kehidupan satu harimu didominasi di Laboratorium.
                Hal penting lain yang saya harus terbiasa adalah tuntutan untuk mandiri dalam studi. Topik yang saya akan bawakan di tesis sudah ditentukan dari awal saya memulai studi S2 saya. Topik ini sendiri berkaitan dengan aplikasi carbon nanotube untuk meningkatkan performan kerja membran dalam aplikasinya di pengolahan air limbah menjadi air bersih dan air laut menjadi air bersih. Dua hal yang menjadi kendala di dalam diri saya adalah saya tidak pernah mengenal atau mempelajari material carbon nanotube. Kedua saya saya tidak familiar dengan kerja membran. Persiapan materi ini sebenarnya sudah saya lakukan selama 3 bulan sebelum keberangkatan ke Korea. Namun, kali ini tekanannya lebih tinggi karena Professor meminta saya untuk membuat 1 paper review tentang trending topic penelitian Carbon Nanotube di dunia riset, dan saya harus melakukannya sendiri. Tanpa bimbingan professor, karena professor sendiri tidak tahu menahu (kurang update) dengan paper dnia riset. Meminta bantuan tim pun sulit karena disamping mereka sulit berbahasa Inggris, mereka pun sedikit malas membaca jurnal internasional. Enam bulan pertama saya membiasakan diri membaca paper setiap hari. Disamping itu saya juga harus belajar cara menggunakan peralatan di laboratorium yang kelak akan mendukung proses penelitian riset saya. Belajar peralatan laboratorium pun menguras pikiran. Kenapa tidak? Saya harus mengikuti alur moody senior saya. Saya menangkap sinyal kegalauan mereka mengajari saya, ya kendala bahasa. Jadi terkadang saya mengoperasikan alat tanpa sepengetahuan mereka dan ketuka alat itu rusak, mereka akan memarahi saya dan disitu mereka akan mengajarkannya pada saya. 


Momen paling sulit dan menegangkan di semester pertama: Put Faith on God's hand
               Momen tersulit pada saat itu adalah ketika saya bergumul dengan tidak menentunya kapan gaji bulanan saya turun. Sesuai kesepakatan dengan Professor, gaji bulan lab saya akan turun tiap bulannya mulai dari 8 agustus 2012. Sampai bulan november, gaji saya tidak kunjung turun. Saya merasa tak enak menanyakan hal ini ke Professor. Akhirnya saya berdiskusi dengan salah satu anggota laboratorium. Beliau mengatakan akhir bulan november gaji saya akan turun dan dirapel dari bulan agustus. Hal itu cukup melegakan hati saya. Namun, beberapa hari kemudian salah satu senior lab saya mengatakan bahwa gaji bulan november tidak akan turun, melainkan bulan desember akhir, dan tidak akan dirapel dari bulan agustus. Hal ini dikarenakan pemerintah Korea mengundurkan waktu start project di lab kami. Dengan kata lain, start pemberian gaji setiap anggota lab kami akan dimulai dari desember 2012. Mendengar hal tersebut saya sangat sedih. Saya pun curhat ke teman tersebut, bagaimana saya kana membayar biaya-biaya administrasi yang telah didahulukan oleh Professor. Namun, tak ada rasa simpati dari teman lab saya ini, dengan lempeng dia berkata, kamu bisa bekerja setelah lulus dan melunasi hutang tersebut kepada Professor. Sedih sekali rasanya mendengar berita ini. Di luar dari ekspektasi saya. Di awal kesepakatan, gaji pertama saya akan dibayarkan pada bulan agustus 2012, dan setiap bulannya gaji saya akan dipotong sekitar 50% untuk membayar biaya-biaya administrasi dan asrama yang didahulukan Professor. Dengan diundurnya jadwal salary project payment berarti saya harus mengusahakan sejumlah uang (tak sedikit) untuk menutupi biaya kuliah dan hidup di Korea selama satu semester. Di Korea sendiri, kasus-kasus mahasiswa Indonesia lari dari Lab/kampus sudah sering dibicarakan. Tak sesuainya iming-iming Professor di awal dan setelah di Korea menjadikan kekecewaan beberapa mahasiswa dan menjadikan mereka lari atau meninggalkan korea. Beberapa mahasiswa ada yang bertahan dengan hidup pas-pasan dan tertekan batin. Bagaimana tidak, pikiran terpecah, di saat harus fokus dengan beban penelitian dan studi yang berat, mahasiswa juga harus berjuang keras hidup berhemat. Apalagi bila mahasiswa tersebut di bawah supervisi Professor muda. Tuntutan paper yang harus dipublikasikan biasanya lebih banyak dari PRofessor tua (senior). Permasalahan seperti ini memang rentan terjadi pada jenis beasiswa jenis Professor Project based Scholarship, dimana salary mahasiswa tergantung pada proyek yang dimiliki Professor. Ketakutan dan kekhwatiran bagaimana aku harus membayar 4 juta won tersebut membuatku tak berselara dan sedih bukan kepalang. Bahkan Lurah perpika wilayah kami sampai mengatakan kemungkinan hutangku dianggap lunas oleh Professor sangat kecil sekali. Berhari-hari aku bergumul, pergumulan kali ini lebih sulit dari pergumulan yang lain. Di momen ini aku merasa pergumulanku semakin meningkat. Disinilah, aku benar-benar belajar berserah pada Tuhan ditengah ketidakpastian. Satu kalimat yang aku gumulkan,"Terjadilah apa yang memang harus terjadi." Kurang lebih dua minggu, aku benar-benar bergumul dengan masalahku ini. Aku bersyukur ditengah-tengah kondisi seperti ini, aku merasakan kedekatan dengan Tuhan. Berdoa setiap malam setelah ngelab di gereja terdekat, setiap pagi diawali dengan saat teduh yang sangat fokus. Kebiasan-kebiasan ini yang memang aku rindukan selama ini.
Tibalah suatu saat, aku memberanikan diri mendatangi Professor langsung tanpa perantara senior, aku menanyakan perihal gaji bulananku. Dia mengatakan memang benar, project payment schedule diundur sampai bulan desember. Lalu aku juga menanyakan bagaimana aku kaan membayar uang senilai 4 juta won yang didahulukan professor untuk memmbayar uang administarai dan  asrama. Dia terdiam sejenak, dan akhirnya dia mengatakan nanti kita pikirkan caranya. Bukan kelegaan yang kurasa, namun kekhawatiran yang lebih besar lagi karena saya tidak mendapatkan kepastian terhadap masalah ini. Semakin hari aku semakin bergumul memikirkan ke depannya. Mungkinkah Professor akan mengganggap lunas hutangku? Mungkinkah hanya aku yang dibantu, bagaimana teman lab lain yang juga belum dibayarkan gajinya. Apakah mungkin dia mau merelakan uang tersebut kepadaku orang baru di lab ini, yang belum menghasilkan sesuatu.
Hari senin siang, manajer lab memanggilku untuk berbincang-bincang. Dengan perasaan deg-deg-an aku mendatangi ruangannya.
Dia berkata secara langsung tanpa basa-basi," Merry Professor said, don't worry about the money you borrow. Professor said it all is considered paid. He considered your debt as your salary for 4 months."

Aku sangat kaget mendengar berita ini, Puji Tuhan. Aku tidak menyangka akan keputusan Professor tersebut. Aku sangat terharu sekaligus bersyukur atas kebaikan Tuhan. Aku pun bersyukur atas kebaikan hati Professorku. Tak satupun dari anggota lab kami yang menyangka Prof akan mengganggap hutangku lunas. Tak hanya itu bahkan Tuhan menambahkan berkat melalui Professor, uang asrama untuk winter period (January-february) dibayarkan oleh Professor tanpa memotong gaji bulananku. Terpujilah Tuhan atas kemurahan-Nya. Jalannya tak terselami tapi yang terbaik selalu diberikan. Peristiwa ini mengajariku satu hal untuk tidak khawatir akan masa depanku khususnya di Korea, karena Tuhan sebagai penopang dan penolongku. 

No comments:

Post a Comment