Introduction
Halo saudara terkasih dalam Kristus. Pada kesempatan ini saya ingin sekali
membagikan pengalaman-pengalaman saya selama saya studi di Korea. Ada banyak
hal yang terjadi selama studi ini, ada suka dan ada duka. Hidup di negara orang
memang penuh dengan cerita. Mudah-mudahan teman-teman yang membaca pengalamanku
ini boleh semakin diberkati. Di kisah ini yang paling utama saya ingin
menekankan pekerjaan tangan Tuhan kita, Yesus Kristus, di hidup saya selama di
Korea.
Perjuangan
itu dimulai saat salah satu senior saya, yang bernama Noka Prihasto, di Teknik
Lingkungan ITB membuka lowongan beasiswa melanjutkan studi S2 di Kyungnam
University dengan beasiswa Professor
based Scholarship (Beasiswa dari proyek penelitian di laboratorium), Korea
Selatan. Jujur saya cukup tertarik apply program ini karena keinginan yang
sangat tinggi untuk lanjut studi di luar negeri. Di saat bersamaan
kebenaran Korea selatan sedang populernya dengan Korean Drama Series-nya dan
K-Popnya, namun, bukan hal itu yang membuat saya tertarik untuk studi di Korea
Selatan.
Mungkin banyak yang tak tahu bahwa Korea
selatan adalah negara urutan kelima di dunia untuk biaya hidup termahal. Bisa dikatakan Korea Selatan memiliki tingkat ekonomi yang tinggi. Di empat tahun
terakhir, Korea juga membuka besar-besaran penerimaan mahasiswa asing untuk
melanjutkan studi S2 maupun S3 melalui berbagai macam program beasiswanya.
Setelah
melalui proses yang lumayan ribet, tanggal 1 september 2012, saya berangkat ke
Korea menggunakan pesawat udara plat Malaysia dari Medan. Butuh waktu sekitaran 6 jam
sampai ke Seoul. Satu hal yang tidak bisa saya lupakan adalah kami gagal mendarat sebanyak
2 kali karena buruknya cuaca pada saat itu akibat pergerakan angin taipoon dan kami pun harus menunggu di angkasa selama 15 menit untuk mendapatkan ijin
dari pihak bandara terkait untuk mendarat. Puji Tuhan, kami pun berhasil
mendarat dengan aman dan selamat. Suara tepukan meriah dari penumpang kepada
seluruh awak pesawat menutup perjalanan kami.
Perjalanan
kali ini adalah perjalanan luar negeri saya pertama, perasaan gugup dan sedikit
khawatir kerap saya rasakan. Dengan tetap fokus, saya mengikuti
penumpang lainnya dan memperhatikan gerak-gerik mereka, maklum saya takut ketingalan. Kata orang-orang,
Bandara Incheon adalah salah satu bandara terbesar dan terbaik di dunia, dan ternyata itu terbukti dengan mata saya sendiri, bandara ini sungguh keren tampilan
maupun fasilitas-fasilitas di dalamnya, dengan fasilitas railwaynya seakan-akan
bandara ini sangat mudah untuk ditelusuri. Kenyataannya, bandara ini sangat
luas.
Setelah
mendapatkan semua bagasi, saya mulai mencari petunjuk arah untuk keluar. Saya
bersyukur ternyata salah seorang senior saya, Bang Indra, sudah menunggu di
luar. Akhirnya dengan bantuannya, saya berhasil mencapai bus terminal dan
berangkat ke Masan, kota tempat saya akan studi. Kurang lebih butuh waktu 5 jam
untuk sampai di Masan. Walaupun fasilitas bus sangat nyaman, perjalanan ini
tetap terasa melelahkan. Sesampainya di Masan, saya segera mencari pusat
informasi untuk meminta bantuan menghubungi senior saya. Dengan bahasa inggris
bercampur gerakan tangan, saya akhirnya dapat menggunakan telepon mereka dan
terhubung dengan senior saya. Kurang dari 25 menit, seorang pria korea, Tae Min
Lee, dengan gelagat sedang mencari-cari seorang mendekat ke arah saya. Dengan
keberanian saya berbicara dengannya dan benar dia adalah salah satu anggota
laboratorium tempat saya bekerja nanti, namanya Tae-Min Lee. Pengalaman yang
sangat unik, dia sangat kaku berbahasa inggris, dan selama perjalanan ke
laboratorium, saya hampir mengulangi 3 kali perkataan saya untuk dapat
dimengerti beliau. Maklum, katanya dia sangat jarang berbahasa inggris.
Sesampainya
di kampus, Kyungnam University, saya langsung diantar menemui Professor, Kim
Seung Hyun, beliau adalah sponsor saya selama studi di Korea. Kesan pertama
Professor bertemu dengan saya adalah dia bertanya apakah saya yang namanya
Merry Sianipar. Dia tidak cukup yakin mungkin yang dia temui sosoknya seperti
tidak anak kuliahan. Hehehe. Akhirnya Professor mengajak saya
berbincang-bincang diruangannya, dan hadiah pertama yang diberikan adalah
handuk. Terharu sekaligus kaget, saya belum pernah dihadiahi sebuah handuk.
Hadiah yang sangat bermanfaat. Sorenya saya diperkenalkan dengan anggota
Laboratorium lainnya yang sudah senior. Mereka adalah Yoon Dong-Su, Lee Ho-Yer,
dan paling tertua, Min Choongsik. Kami pun berangkat makan malam bersama.
Selama makan malam, saya merasakan kehangatan kekeluargaan. Professor sendiri
lebih banyak bertanya tentang latar belakang dan kondisi keluarga saya. Saya
merasa Professor saya orang yang baik dan perhatian. Setelah makan malam,
akhirnya saya bertemu senior saya, Noka Prihasto. Beliaulah yang menjadi
pembuka jalan bagi saya studi di Korea sekaligus perantara saya dengan Professor
dan manajer laboratorium selama proses penerimaan mahasiswa. Kami pun
berbelanja peralatan kos di Lotte Mart bersama seluruh anggota Laboratorium
lainnya. Saya bersyukur kak Noka yang mentraktir saya belanja peralatan kos.
:). Selanjutnya, Life in Korea was begun.
Life in Korea was begun
Kehidupan
saya di Korea tepatnya dimulai pada tanggal 01 September 2012. Kekhawatiran dan
ketakutan kerap kali melanda hati dan pikiran saya. Bagaimana saya akan
menjalani 2 tahun ke depan hidup di Korea.
Saya
bersyukur saya ditempatkan di tengah-tengah orang-orang Korea yang cukup baik hati.
Di bulan pertama di Korea, saya sibuk melakukan administrasi Kuliah dan asrama.
Dibantu manajer Lab, saya akhirnya resmi menjadi mahasiswa program magister di
Departemen Teknik Sipil. Adapun jurusan program magister saya adalah Science
and Infrastructure System.
Culture Shock: Think and Move Fast &
Independent Student
Menjalani
studi S2 di Korea adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan
kepada saya. Saya bersyukur bisa mendapat kesempatan ini. Bukan semata
kebanggaan studi di luar negerinya, namun selama studi S2 ini saya benar-benar
belajar mengandalkan Tuhan. Disinilah saya pikir salah satu puncak kebahagian yang
tertinggi itu.
Masa
sulit pertama yang saya hadapi adalah berelasi dengan orang Korea. Bahasa
menjadi salah satu kendala kurang bisanya saya bergaul dengan orang korea. Tak
mudah menemukan seorang Korea yang bisa berbahasa Inggris. Bahkan di lingkungan
kampus, jangan harap bisa dengan mudah menemukan seorang yang lancar berbahasa
Inggris. Tidak jauh-jauh, anggota laboratorium saya yang familiar dengan konferensi
internasional dan paper berskala international mengalami kesulitan dalam
berbahasa inggris yang baik. Hal ini mungkin dikarenakan sistematika bahasa
mereka yang sangat berbeda dengan bahasa Inggris. Ditambah lagi jenis huruf
mereka yang mereka sering gunakan mejadikan mereka sulit untuk mengingat
vocabulary. Bisa dibayangkan sulitnya membangun relasi dengan
orang-orang sini. Saya sendiri satu-satunya mahasiswa Indonesia di kampus ini
dan bahkan di kota ini sehingga mau tak mau saya harus berinteraksi dengan
orang-orang Korea saja. Makan, kerja dan jalan-jalan dengan mereka. Kondisi ini
sangat tidak nyaman bagi saya di awal. Bayangkan saja, mereka berkomunikasi hanya dengan
bahasa Korea dan tak begitu peduli apakah saya mengerti atau tidak. Akhirnya di
bulan-bulan pertama yang saya rasakan adalah kepahitan. Akhirnya saya belajar
untuk cuek di saat berkumpul bersama. Di sisi lain kendala bahasa ini kerap
kali menimbulkan miskomunikasi diantara kami. Miskomunikasi yang berujung pada
perkelahian. Tak jarang saya menangis di awal-awal kehidupan saya di Korea.
Kesulitan
lainnya yang saya hadapi adalah beradaptasi dengan kultur kerja mereka. Kultur
pali atau think and move fast sungguh-sungguh membuat saya sering linglung dan berespon lambat. Apalagi sifat senioritas yang sangat kental membuat saya agak
gugup dalam membangun relasi ke anggota tim yang lebih tua. Seorang senior Korea
kerap kali ingin juniornya mengerjakan maksud pikirannya dengan cepat dan
tepat.Tekanan itu bukan membuatku cepat tepat tapi jadi lambat dan tidak
tepat. Sebagai konsekuensinya, tak jarang saya mendapat teriakan dengan nada
meninggi atau paling tragisnya makian "Pabo (Bodoh)" dari
senior. Sangat disadar, mereka (senior) tidak pandang bulu dengan juniornya
baik laki-laki maupun perempuan. Begitulah tekanan yang saya hadapi di
bulan-bulan bahkan tahun pertama, dan hal itu membuat saya stress. Tak hanya merasa mental saya tertekan, tekanan berujung kurang fokusnya saya sehingga tak jarang menimbulkan
kerusakan alat. Hingga pada suatu hari, senior sangat marah dengan saya karena
rusaknya alat yang cukup mahal, tak dapat dibendung lagi jitakannya pun
mendarat di jidat saya. Seumur-umur, belum
pernah saya dijitak senior saya selama kuliah.
Adaptasi
jam kerja di Korea juga cukup merepotkanku. Masuk jam 9 pagi, pulang jam 9
malam adalah standar biasa di laboratoriumku, dan hampir di seluruh laboratorium di
kampus-kampus Korea. Bisa bayangkan bagaimana kehidupan satu harimu didominasi
di Laboratorium.
Hal
penting lain yang saya harus terbiasa adalah tuntutan untuk mandiri dalam studi. Topik yang saya
akan bawakan di tesis sudah ditentukan dari awal saya memulai studi S2 saya.
Topik ini sendiri berkaitan dengan aplikasi carbon nanotube untuk meningkatkan
performan kerja membran dalam aplikasinya di pengolahan air limbah menjadi air
bersih dan air laut menjadi air bersih. Dua hal yang menjadi kendala di dalam
diri saya adalah saya tidak pernah mengenal atau mempelajari material carbon
nanotube. Kedua saya saya tidak familiar dengan kerja membran. Persiapan materi
ini sebenarnya sudah saya lakukan selama 3 bulan sebelum keberangkatan ke
Korea. Namun, kali ini tekanannya lebih tinggi karena Professor meminta saya
untuk membuat 1 paper review tentang trending topic penelitian Carbon Nanotube
di dunia riset, dan saya harus melakukannya sendiri. Tanpa bimbingan professor,
karena professor sendiri tidak tahu menahu (kurang update) dengan paper dnia
riset. Meminta bantuan tim pun sulit karena disamping mereka sulit
berbahasa Inggris, mereka pun sedikit malas membaca jurnal internasional. Enam
bulan pertama saya membiasakan diri membaca paper setiap hari. Disamping itu
saya juga harus belajar cara menggunakan peralatan di laboratorium yang kelak
akan mendukung proses penelitian riset saya. Belajar peralatan laboratorium pun menguras pikiran. Kenapa tidak? Saya harus mengikuti alur moody senior
saya. Saya menangkap sinyal kegalauan mereka mengajari saya, ya kendala bahasa.
Jadi terkadang saya mengoperasikan alat tanpa sepengetahuan mereka dan ketuka
alat itu rusak, mereka akan memarahi saya dan disitu mereka akan mengajarkannya
pada saya.
Momen paling sulit dan menegangkan di
semester pertama: Put Faith on God's hand
Momen
tersulit pada saat itu adalah ketika saya bergumul dengan tidak menentunya
kapan gaji bulanan saya turun. Sesuai kesepakatan dengan Professor, gaji bulan
lab saya akan turun tiap bulannya mulai dari 8 agustus 2012. Sampai bulan november,
gaji saya tidak kunjung turun. Saya merasa tak enak menanyakan hal ini ke
Professor. Akhirnya saya berdiskusi dengan salah satu anggota laboratorium.
Beliau mengatakan akhir bulan november gaji saya akan turun dan dirapel dari
bulan agustus. Hal itu cukup melegakan hati saya. Namun, beberapa hari kemudian
salah satu senior lab saya mengatakan bahwa gaji bulan november tidak akan
turun, melainkan bulan desember akhir, dan tidak akan dirapel dari bulan
agustus. Hal ini dikarenakan pemerintah Korea mengundurkan waktu start project
di lab kami. Dengan kata lain, start pemberian gaji setiap anggota lab kami
akan dimulai dari desember 2012. Mendengar hal tersebut saya sangat sedih. Saya
pun curhat ke teman tersebut, bagaimana saya kana membayar biaya-biaya
administrasi yang telah didahulukan oleh Professor. Namun, tak ada rasa simpati
dari teman lab saya ini, dengan lempeng dia berkata, kamu bisa bekerja setelah
lulus dan melunasi hutang tersebut kepada Professor. Sedih sekali rasanya
mendengar berita ini. Di luar dari ekspektasi saya. Di awal kesepakatan, gaji
pertama saya akan dibayarkan pada bulan agustus 2012, dan setiap bulannya gaji
saya akan dipotong sekitar 50% untuk membayar biaya-biaya administrasi dan
asrama yang didahulukan Professor. Dengan diundurnya jadwal salary project
payment berarti saya harus mengusahakan sejumlah uang (tak sedikit) untuk
menutupi biaya kuliah dan hidup di Korea selama satu semester. Di Korea
sendiri, kasus-kasus mahasiswa Indonesia lari dari Lab/kampus sudah sering dibicarakan.
Tak sesuainya iming-iming Professor di awal dan setelah di Korea menjadikan
kekecewaan beberapa mahasiswa dan menjadikan mereka lari atau meninggalkan
korea. Beberapa mahasiswa ada yang bertahan dengan hidup pas-pasan dan tertekan
batin. Bagaimana tidak, pikiran terpecah, di saat harus fokus dengan beban
penelitian dan studi yang berat, mahasiswa juga harus berjuang keras hidup
berhemat. Apalagi bila mahasiswa tersebut di bawah supervisi Professor muda.
Tuntutan paper yang harus dipublikasikan biasanya lebih banyak dari PRofessor
tua (senior). Permasalahan seperti ini memang rentan terjadi pada jenis
beasiswa jenis Professor Project based Scholarship, dimana salary mahasiswa
tergantung pada proyek yang dimiliki Professor. Ketakutan dan kekhwatiran bagaimana
aku harus membayar 4 juta won tersebut membuatku tak berselara dan sedih bukan
kepalang. Bahkan Lurah perpika wilayah kami sampai mengatakan kemungkinan
hutangku dianggap lunas oleh Professor sangat kecil sekali. Berhari-hari aku
bergumul, pergumulan kali ini lebih sulit dari pergumulan yang lain. Di momen
ini aku merasa pergumulanku semakin meningkat. Disinilah, aku benar-benar
belajar berserah pada Tuhan ditengah ketidakpastian. Satu kalimat yang aku
gumulkan,"Terjadilah apa yang memang harus terjadi." Kurang lebih dua
minggu, aku benar-benar bergumul dengan masalahku ini. Aku bersyukur
ditengah-tengah kondisi seperti ini, aku merasakan kedekatan dengan Tuhan.
Berdoa setiap malam setelah ngelab di gereja terdekat, setiap pagi diawali
dengan saat teduh yang sangat fokus. Kebiasan-kebiasan ini yang memang aku
rindukan selama ini.
Tibalah suatu saat, aku memberanikan diri
mendatangi Professor langsung tanpa perantara senior, aku menanyakan perihal
gaji bulananku. Dia mengatakan memang benar, project payment schedule diundur
sampai bulan desember. Lalu aku juga menanyakan bagaimana aku kaan membayar
uang senilai 4 juta won yang didahulukan professor untuk memmbayar uang
administarai dan asrama. Dia terdiam
sejenak, dan akhirnya dia mengatakan nanti kita pikirkan caranya. Bukan
kelegaan yang kurasa, namun kekhawatiran yang lebih besar lagi karena saya
tidak mendapatkan kepastian terhadap masalah ini. Semakin hari aku semakin
bergumul memikirkan ke depannya. Mungkinkah Professor akan mengganggap lunas hutangku?
Mungkinkah hanya aku yang dibantu, bagaimana teman lab lain yang juga belum
dibayarkan gajinya. Apakah mungkin dia mau merelakan uang tersebut kepadaku
orang baru di lab ini, yang belum menghasilkan sesuatu.
Hari senin siang, manajer lab memanggilku
untuk berbincang-bincang. Dengan perasaan deg-deg-an aku mendatangi ruangannya.
Dia berkata secara langsung tanpa
basa-basi," Merry Professor said, don't worry about the money you borrow.
Professor said it all is considered paid. He considered your debt as your
salary for 4 months."
Aku sangat kaget mendengar berita ini,
Puji Tuhan. Aku tidak menyangka akan keputusan Professor tersebut. Aku sangat
terharu sekaligus bersyukur atas kebaikan Tuhan. Aku pun bersyukur atas
kebaikan hati Professorku. Tak satupun dari anggota lab kami yang menyangka
Prof akan mengganggap hutangku lunas. Tak hanya itu bahkan Tuhan menambahkan
berkat melalui Professor, uang asrama untuk winter period (January-february)
dibayarkan oleh Professor tanpa memotong gaji bulananku. Terpujilah Tuhan atas
kemurahan-Nya. Jalannya tak terselami tapi yang terbaik selalu diberikan.
Peristiwa ini mengajariku satu hal untuk tidak khawatir akan masa depanku
khususnya di Korea, karena Tuhan sebagai penopang dan penolongku.